Penyebab Alergi Makanan

Orang yang mengidap penyakit alergi yang disebabkan oleh suatu makanan, pasti akan merasakan gatal-gatal pada bagian tubuhnya. Selain itu, reaksi yang berlebihan saat mengidap alergi dapat menyebabkan ruam, mata gatal, pilek, kesulitan bernapas, mual, dan diare. Biasanya orang yang mengidap penyakit ini alergi terhadap makanan seperti sefood, susu, telur, dan lain-lain. Jika hal ini terjadi kepada Anda, sebaiknya lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan.
Baca juga artikel : Manfaat Senam Yoga
Pengertian Alergi Makanan
Alergi makanan adalah reaksi dari sistem kekebalan tubuh ketika tubuh salah mengira bahwa beberapa makanan adalah berbahaya. Alergi makanan dapat bersifat kronis (berlangsung lama), atau akut (secara tiba-tiba). Reaksi akut dapat menyebabkan reaksi serius bahkan mengancam jiwa yang disebut anafilaksis.
Berdasarkan zat pemicu dan jangka waktu munculnya gejala, alergi makanan terbagi menjadi tiga jenis, yaitu immunoglobulin E, non-immunoglobulin E, dan gabungan keduanya. Immunoglobulin E adalah salah satu zat antibodi yang ada di dalam sistem kekebalan tubuh kita. Alergi makanan yang dipicu oleh produksi zat ini merupakan jenis alergi makanan yang paling umum terjadi dan gejalanya, biasanya akan muncul tidak lama setelah penderita makan. Sedangkan untuk alergi makan yang dipicu oleh zat-zat antibodi selain immunoglobulin E, rentang waktu munculnya gejala akan membutuhkan waktu yang lebih lama atau biasanya berjam-jam setelah penderita makan.
Siapa Yang Biasanya Mengidap Alergi?
Alergi makanan mempengaruhi sekitar 6 sampai dengan 8 persen untuk anak-anak di bawah 3 tahun, dan sebanyak 3 persen adalah orang dewasa. Anak-anak umumnya alergi terhadap susu, kedelai, gandum, dan telur.
Apa Saja Gejalanya?
Penderita alergi makanan yang dipicu zat immunoglobulin E, biasanya akan mengalami gejala berupa ruam merah dan gatal di kulit, sensasi kesemutan atau gatal di dalam rongga mulut, sulit menelan, dan pembengkakan pada mulut, wajah, serta bagian tubuh lainnya.
- Terasa gatal di mulut seketika setelah makan makanan tersebut.
- Hidung menjadi gatal dan pengap
- Mulai timbul bersin-bersin
- Mata menjadi gatal dan mengeluarkan banyak air mata
- Bibir menjadi bengkak
- Wajah, lidah, tenggorokan, atau bagian lain dari tubuh juga bisa gatal dan membengkak
- Setelah makanan mencapai perut, mungkin akan mengalami gejala seperti muntah, diare, atau kram perut
- Kulit menjadi merah dan gatal
Pada kasus alergi makanan non-immunoglobulin E, gejala utama yang timbul sebenarnya hampir sama dengan gejala pada alergi makanan yang diperantarai oleh zat immunogbulin E, yaitu munculnya rasa gatal dan ruam di kulit. Namun bedanya, tekstur ruam pada jenis alergi ini tidak tampak timbul. Selain itu ada yang mengalami gejala seperti penyakit eksim atopik, yaitu ketika kulit tampak kering dan pecah-pecah, berwarna merah, serta terasa gatal.
Kadang-kadang alergi makanan non-immunoglobulin E dapat memunculkan gejala-gejala yang sama seperti yang disebabkan oleh kondisi lainnya. Ini berarti bisa sulit membedakan penyebab gejala dan bisa dianggap bukan sebagai reaksi alergi.
Gejala-gejala alergi makanan non-immunoglobin E di antaranya:
- Area kelamin dan anus tampak berwarna kemerahan
- Gangguan pencernaan
- Sembelit
- Nyeri ulu hati
- Frekuensi buang air besar meningkat
- Adanya lendir atau darah pada kotoran
- Kulit menjadi pucat.
Jangan sepelekan alergi makanan karena pada kasus tertentu bisa mengarah kepada suatu kondisi yang disebut anafilaksis atau reaksi alergi parah. Gejala awal anafilaksis memang terlihat seperti gejala alergi makanan biasa, namun dalam waktu yang sangat cepat, gejala dapat memburuk dan penderitanya bisa mengalami peningkatan detak jantung yang sangat cepat, sulit bernapas, penurunan tekanan darah yang sangat drastis, dan pingsan. Jika tidak segera ditangani dengan baik, anafilaksis dapat menyebabkan kematian.
Makanan Penyebab Alergi
Pada orang dewasa, makanan yang paling sering menimbulkan reaksi alergi antara lain :
- Kerang, tiram
- Udang, lobster, dan kepiting
- Kacang
- Pohon kacang, seperti walnut, kacang mete, dan kemiri
- Ikan (termasuk ikan tongkol)
- Telur
Makanan yang paling sering menimbulkan reaksi alergi pada anak-anak, antara lain :
- Kacang-kacangan
- Susu
- Telur
- Gandum
- Kedelai
Faktor-faktor Peningkat Resiko Alergi makanan
- Riwayat keluarga
Seseorang berisiko tinggi memiliki alergi makanan jika merupakan pengidap penyakit asma, eksim, dan bintik-bintik merah atau alergi seperti alergi debu.
- Pernah mengalami alergi makanan
Anak-anak dapat berpotensi lebih tinggi memiliki alergi makanan, tetapi dalam beberapa kasus hal tersebut dapat kembali terjadi
- Alergi dengan makanan lain
Jika seseorang telah memiliki alergi terhadap satu makanan, hal ini akan berisiko tinggi untuk mengalami alergi terhadap makanan lain. Demikian juga, apabila memiliki jenis reaksi alergi lain, seperti alergi debu atau eksema, risiko seseorang memiliki alergi makanan menjadi lebih besar
- Umur
Alergi makanan umumnya terjadi pada anak-anak, khususnya anak-anak kecil dan bayi. Saat seseorang tumbuh besar, sistem pencernaan akan menjadi lebih matang dan tubuh dapat meminimalisir dalam mencerna makanan yang merangsang alergi. Anak-anak biasanya memiliki alergi terhadap susu, kedelai, gandum dan telur. Alergi berat dan alergi terhadap kacang dan kerang-kerangan cenderung berlangsung lebih lama
- Asma
Asma dan alergi makanan umumnya terjadi bersamaan. Ketika hal ini terjadi, alergi makanan dan asma, gejala keduanya cenderung lebih berat.
Berikut merupakan faktor-faktor yang meningkatkan risiko Anda terhadap reaksi anafilatik
- Memiliki sejarah asma
- Berusia remaja atau lebih muda
- Terlambat menggunakan epinefrin untuk mengobati gejala alergi makanan Anda
- Tidak memiliki bintik-bintik merah atau gejala kulit
Diagnosis Alergi makanan
Diagnosis alergi biasanya dilakukan dengan kombinasi penelaahan riwayat medis pasien, pemeriksaan klinis dan tes untuk mendeteksi antibodi IgE. Cara yang lebih sederhana untuk mengidentifikasi reaksi makanan adalah dengan rotasi diet, yang terdiri dari hanya mengkonsumsi makanan tertentu yang diganti setiap 3-4 hari sekali dalam dua atau tiga siklus. Cara ini dapat mengidentifikasi makanan penyebab alergi.
Pengobatan untuk Alergi Makanan
Pengobatan yang terbaik untuk alergi makanan adalah dengan menghindari makanan yang menyebabkan gejala alergi bagi anda. Oleh karena itu sangat perlu membaca bahan pada label makanan untuk memastikan bahwa makanan tidak mengandung apa pun yang mungkin menyebabkan alergi bagi anda.
Berdasarkan tingkat keparahan gejala, ada dua jenis obat alergi yang umumnya digunakan. Yang pertama adalah obat-obatan antihistamin. Obat ini digunakan untuk meredakan reaksi alergi atau gejala alergi yang masih tergolong ringan hingga menengah.
Jenis obat alergi yang kedua adalah obat yang mengandung adrenalin. Obat ini biasanya diberikan oleh dokter untuk menanggulangi gejala alergi parah pada kasus anafilaksis dengan cara disuntikkan. Adrenalin mampu meredakan gejala sulit bernapas dengan cara memperlebar saluran napas, serta menanggulangi tekanan darah rendah.
Post a Comment for "Penyebab Alergi Makanan"